20 Mei dan Tonggak Sejarah Kebangkitan Bangsa Indonesia

0
39
BudiUtomo dianggap sebagai tonggak sejarah kebangkitan pribumi melawan kolonialisme.

Karena itu pada 1948, Presiden Sukarno menetapkan 20 Mei sebagaiHari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Budi Utomo berdiri sebagai organisasi tak lepas dari peristiwa dan kebijakan pemerintah kolonial beberapa tahun sebelumnya. Ada peran Novel Max Havelaar di dalamnya.

Novel Max Havelaar merupakan karya seorang keturunan Belanda bernama Edward Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli. Novel itu pertama kali terbit pada 1860 dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Douwes Dekker merupakan mantan asisten residen Lebak, Banten. Lewat Max Havelaar, dia menceritakan betapa pemerintah kolonial Belanda menyengsarakan negeri jajahannya.

Max Havelaar membuka mata orang-orang Eropa yang selama ini tidak tahu bagaimana kehidupan di negara jajahan dan tidak tahu bagaimana pemerintahnya memperlakukan orang-orang pribumi yang dijajah. Walhasil, novel tersebut menjadi terkenal di Eropa.

Kaum liberal Belanda juga mengutuk pemerintahnya ihwal praktik kolonialisme yang dilakukan selama ini. Mereka lalu mengkampanyekan Politik Etis atau politik balas budi kepada negara jajahan. Terdiri dari tiga program, yakni edukasi, irigasi dan transmigrasi.

Kaum liberal lalu memenangkan pemilu. Ratu Belanda, Wilhelmina lalu mengeluarkan kebijakan Politik Etis tersebut untuk diterapkan di Hindia Belanda (Indonesia dulu).

Dalam program edukasi Politik Etis, pemerintah kolonial lebih membuka kesempatan kepada pribumi untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah Belanda. Selain sebagai balas budi, Belanda juga ingin menciptakan tenaga kerja dari kalangan pribumi.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak sekolah Belanda yang menerima siswa dari kalangan pribumi. Semakin banyak pula golongan terpelajar.

Pada 1906, Wahidin Sudirohusodo berkeliling mengumpulkan dana untuk memberikan beasiswa kepada putra-putra Jawa. Wahidin merupakan lulusan sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia.

Dia melakukan itu karena ingin semakin banyak putra-putra Jawa yang mendapat pendidikan dan melestarikan budaya Jawa. Hingga kemudian dia bertemu dengan Sutomo yang juga siswa STOVIA.

Mengutip Nusantara Sejarah Indonesia karangan Bernard Vlekke, mereka lalu mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 bersama Gunarwan dan Sunarja di Jalan Abdulrahman Saleh No. 26, Jakarta.

Soetomo didapuk sebagai ketua. Bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi organisasi tersebut.

Budi Utomo bertekad menyadarkan masyarakat Indonesia, melestarikan budaya dan berupaya meningkatkan taraf hidup lewat pendidikan. Budi Utomo kala itu masih fokus di Jawa dan Madura.

Dalam setahun, anggota Budi Utomo mencapai 10 ribu orang di berbagai daerah. Jumlah anggota terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Kala itu Budi Utomo membatasi kegiatan di aspek pendidikan dan kebudayaan di Jawa dan Madura. Belum memiliki cita-cita politik, misalnya memerdekakan Indonesia. Di kemudian hari, Budi Utomo memiliki cita-cita demikian dan tidak lagi terpatok di Jawa dan Madura saja.

Tokoh-tokoh Budi Utomo berperan dalam pergerakan nasional di masa selanjutnya. Misalnya Dr Cipto Mangunkusumo serta Dr. Radjiman Wediodiningrat dan beberapa tokoh lainnya.

Pada 1948, kondisi politik Indonesia masih semrawut. Kabinet parlementer jatuh bangun tanpa bisa menyelesaikan masa jabatannya hingga tuntas. Banyak tokoh nasional yang bermusuhan satu sama lain.

Selain itu, Belanda pun masih kerap melancarkan aktivitas militer lantaran belum mengakui kemerdekaan Indonesia.

Dalam kondisi demikian, Ki Hadjar Dewantara dan Radjiman Wediodiningrat mengusulkan agar tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sukarno setuju.

“Dalam keadaan Republik yang krusial itu, sebuah simbol baru persatuan sangat dibutuhkan,” kata Sejarawan Taufik Abdullah dalam Jurnal Masyarakat Indonesia No. 2 tahun 2008.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam kurang setuju ketika 20 Mei ditetapkan sebagai Harkitnas. Menurutnya, Budi Utomo hanya membatasi kegiatannya di Jawa dan Madura.

“Memang organisasi itu diakui sebagai organisasi modern pertama di tanah air kita, tetapi ruang lingkup keanggotaannya masih terbatas kepada orang Jawa (priyayi),” kata Asvi dalam bukunya bertajuk Seabad Kontroversi Sejarah (2007).

Sejarawan Universitas Padjadjaran Widyonugrahanto berpendapat berbeda. Menurutnya, wajar saja jika saat itu Budi Utomo masih terbatas di Jawa dan Madura. Wajar pula jika saat itu belum memiliki cita-cita politik memerdekakan Indonesia.

“Pada awal abad ke-20 kan mana ada orang pribumi yang berpikir mendirikan negara seluas Hindia Belanda atau Indonesia sekarang,” kata Anto Selasa (19/5).

Saat Harkitnas ditetapkan, lanjutnya, Indonesia juga dalam kondisi perang. Oleh karena itu, proses penggalian sejarah tidak berjalan maksimal untuk mengulas kembali pergerakan-pergerakan nasional secara utuh.

“Lalu mengapa Budi Utomo yang dipilih? Dugaanku pada tahun tersebut para pemimpin kita ingin mewariskan kepada bangsanya bahwa yang membangkitkan nasionalisme Indonesia itu adalah kaum terpelajar dari Stovia yaitu calon-calon dokter,” kata Anto.

“Bukan dari pedagang, petani atau elite yang bukan pelajar, tapi nasionalisme Indonesia ini lahir dari para pelajar yaitu pelajar calon dokter dari STOVIA,” kata Anto. (INT)

Leave a Reply