Angka Kematian Tenaga Kesehatan Meningkat, Banyak Masyarakat Tak Patuhi Protokol Kesehatan

0
11
Ilustrasi tenaga kesehatan

Ketua Tim Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI, Eka Ginandjar mengatakan,  meningkatnya angka kematian tenaga kesehatan yang pesat lantaran masih banyak masyarakat yang tak mematuhi protokol kesehatan. Banyak pula masyarakat tak bisa memahami peraturan adaptasi kebiasaan baru yang digaungkan pemerintah.

“Munculnya klaster-klaster baru di setiap area dan bidang merupakan hal yang patut diwaspadai saat ini,” ujarnya.

Eka meminta masyarakat untuk disiplin menerapkan 3M atau memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak saat beraktivitas. Selain itu, masyarakat juga dapat memakai hand sanitizer.

“Pelaksanaan 3M ini harus dilaksanakan secara masif oleh semua orang tanpa kecuali. Dengan demikian penyebaran Covid-19 ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga dapat menekan jumlah korban dan collateral damage,” katanya.

Eka Ginandjar menuturkan total dokter yang meninggal terpapar Covid-19 sebanyak 136 orang, sementara perawat berjumlah 92 orang per hari ini, Selasa (29/9).

“Terdapat 127 dokter, 9 dokter gigi yang terdiri dari 6 dokter gigi umum, 3 dokter gigi spesialis serta 92 perawat telah meninggal dunia akibat Covid-19,” kata Eka dalam keterangannya, Selasa (29/9).Dari 127 dokter yang meninggal terdiri 66 dokter umum, 4 di antaranya guru besar; dan 59 dokter spesialis, 4 di antaranya guru besar dan 2 orang residen. Keseluruhan dokter tersebut berasal dari 18 IDI cabang provinsi dan 61 IDI cabang kota/kabupaten.

Berdasarkan data provinsi, Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak, yakni 31 dokter. Disusul Sumatera Utara 21 dokter, DKI Jakarta 17 dokter, Jawa Barat 11 dokter, Jawa Tengah 9 dokter, dan beberapa wilayah lainnya dengan jumlah di bawah 7 orang.

Sementara itu, Ketua Umum PDGI RM Sri Hananto Seno mengatakan para dokter gigi yang meninggal kebanyakan tertular pada saat memberikan pelayanan kesehatan gigi kepada pasien.

Mayoritas mereka melayani pasien Covid-19 tanpa gejala. Selain itu, juga ada yang tertular sedang bertugas di rumah sakit umum, rumah sakit khusus gigi dan mulut, puskesmas, serta klinik tempat berpraktek.

“Oleh karena itu, PDGI mengimbau kepada para dokter gigi dan masyarakat untuk melakukan konsultasi medis melalui tele-dental medicine untuk mengurangi angka penularan antara pasien ke dokter gigi,” kata Sri.

Jika perlu penanganan langsung secara tatap muka, kata Sri, diharapkan pasien dapat membersihkan mulut terlebih dahulu sebelum bertemu dokter gigi. Kemudian melaksanakan protokol kesehatan yang telah ditentukan.

“Sementara dokter gigi yang melayani menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar, untuk mengurangi penularan atau transmisi Covid-19 melalui droplet atau cairan yang keluar dari mulut yang merupakan sumber utama penularan,” ujarnya.

Terakhir, Ketua Umum DPP PPNI, Harif Fadhilah meminta perlindungan kesehatan karena tenaga kesehatan adalah benteng terakhir dari penanggulangan Covid-19. Menurutnya, penanganan pandemi Covid-19 merupakan tanggung jawab semua lapisan masyarakat.

“Bahwa perlindungan terhadap para tenaga kesehatan dari perawat hingga dokter dan dokter gigi sebagai benteng terakhir dalam melawan Covid-19 ini merupakan tanggung jawab semua aspek baik masyarakat, pemerintah, juga pemilik dan pengelola fasilitas kesehatan,” katanya.

(IN)

Leave a Reply