Banyak Advokat/Pengacara Hidup Pas-Pasan

0
88
Jimmy Budi baju coklat dan Alm Yan Apul dan senior advokat

Gaya dan penampilan para pengacara atau advokat sering terlihat sangat mewah. Ada yang sengaja memamerkan cincin berlian di jari-jemarinya yang nilainya ratusan juta hingga miliaran. Ada pula pengacara yang mengaku dengan mudah membeli tas Hermes yang harganya Rp 1 miliar atau keluar negeri dengan minimal mengeluarkan uang Rp 5 miliar dengan menaiki jet sewaan.semuanya itu adalah strategi mereka berpenampilan menarik salah satunya untuk menjatuhkan psikologis lawan.

Mantan Ketua Umum Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI) dan Pendiri PERADI/KAI, Prof. Dr. Jimmy Budi Haryanto, mengatakan seorang pengacara tidak diharuskan berpakaian mewah, melainkan berpenampilan rapi. Dengan berpenampilan rapi, berarti pengacara tersebut menghargai profesinya, rekan sejawat, dan juga persidangan, Ujar Jimmy dikepada redaksi Integritas dikantornya di Sentul City Bogor, Selasa, 5/05/2020.

Lebih dari itu, Jimmy  menilai kehormatan seorang pengacara bukanlah dari penampilannya, melainkan dari kualitas kerja, kejujuran, dan tutur katanya.

“Untuk apa berpakaian mewah, jam mewah, tetapi kerjanya tidak benar dan jujur bahkan membuat kecewa Klien” Ujar Jimmy yang juga Pendiri Majalah Integritas

Tidak salah Pengacara/Advokat berpenapilan necis, karena hasil kerja dan usaha keras dalam memberikan jasa dan dia merasa ingin menikmati jerih payahnya, tapi tidak semua pengacara/advokat yang beruntung Jimmy mengatakan masih banyak pula pengacara/advokat yang hidup layak atau bahkan pas-pasan. Hal ini, menurut dia, disebabkan adanya penumpukan perkara di Jakarta.

Penyebab lainnya adalah perusahaan-perusahaan besar cenderung menggunakan jasa pengacara yang sudah menjadi langganan mereka dari dulu sehingga tidak adanya persebaran klien.

Senada dengan Jimmy, pengacara  Hendrik Aryanto Sinaga, SH,MH mengatakan lebih dari 75 persen pengacara di Indonesia menjalani hidup yang pas-pasan. Ia menyebutkan, di Jakarta tiap tahun bertambah pengacara sebanyak lima ribu orang. Hal ini akan membuat pengacara sulit mendapatkan klien.

Hendrik berpendapat, hal ini disebabkan banyak pengacara yang standar keahliannya bukan di tempat yang bisa mendatangkan banyak uang seperti dalam perkara-perkara bisnis. Ia mengatakan, jika keahlian seorang pengacara hanya soal perceraian dan perzinaan, akan sulit bagi pengacara itu mewakili perusahaan-perusahaan raksasa dalam menghadapi persoalan hukum. (IML)

Leave a Reply