Chatib Basri: Angka Tes Covid-19 di Indonesia Saat ini Masih Kurang

0
9
Menteri Keuangan RI periode 2013-2014, Chatib Basri

Menteri Keuangan RI periode 2013-2014, Chatib Basri, ragu bahwa vaksin virus corona (Covid-19), jika sudah ada, akan bisa didistribusikan secara merata dengan cepat di Indonesia. Hal itu disampaikan Chatib dalam acara webinar ANU Indonesia Project Conference on Covid-19, Selasa (8/9/2020).

Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa keraguan itu didasarkan pada kondisi pemerintah dalam melakukan tes Covid-19 saat ini, yang menurutnya angkanya masih kurang tinggi.

“Jumlah yang diperkirakan menurut pemerintah adalah sekitar 25 juta. Jika melihat 25 juta dibagi 365 hari, pemerintah seharusnya melakukan 68.000 vaksin per hari. Namun kenyataannya, kemampuan pemerintah dalam melakukan uji PCR sekarang hanya 20.000 tes,” katanya.

“Jadi bahkan satu tahun setelah 2021, masih sangat sulit untuk mendistribusikan vaksin.”

“Sekarang dalam satu bulan terakhir saya pikir ada diskusi tentang vaksin dan mudah-mudahan pada Januari 2021 vaksin sudah tersedia. Tetapi masalahnya adalah kita mungkin perlu melakukan sedikit matematika tentang ini. Pertanyaan pertama adalah masyarakat mana yang akan mendapatkan vaksin terlebih dahulu?,” katanya.

“Mungkin fokusnya ada pada populasi yang menua, kelompok yang menua atau para penderita penyakit seperti diabetes dan lain-lain.”

Ia pun menyebut bahwa hal tersebut akan memengaruhi pemulihan ekonomi RI ke depannya.

“Jadi itu sebabnya mungkin pemulihannya akan berbentuk U. Dan satu hal lagi, dengan protokol kesehatan yang masih diterapkan, akan sangat sulit untuk menjangkau titik yang telah ditentukan,” kata Chatib.

Dalam kesempatan yang sama, Chatib juga membahas sejumlah tantangan yang mungkin akan dihadapi ekonomi saat dalam pemulihan. Menurut Chatib, ada dua masalah utama yang bisa menghalangi ekonomi RI bangkit dari level penurunan saat ini.

Masalah pertama adalah lemahnya permintaan atau masalah daya beli. “Kedua, faktor eksternal karena ekonomi global belum pulih, terutama China karena ekspor kita, 40% ekspor kita pada dasarnya adalah batubara dan minyak sawit ke China sehingga sangat bergantung pada China.”

“Hal lain yang kami pelajari dari pengalaman kami, bahwa social distancing itu adalah bias yang berpihak pada golongan menengah ke atas,” terangnya. (HP)

Leave a Reply