Demi Terjaganya Keutuhan NKRI, Demokrasi di Indonesia Harus Mapan

0
269
Ilustrasi demokrasi

Demokrasi di Indonesia masih belum mapan. Hal tersebut terlihat dari
maraknya hoaks atau berita bohong dan “panasnya” kondisi politik Tanah
Air belakangan ini menjelang Pilpres 2019.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi, Indonesia sebagai bangsa seolah terpecah, karena sistem yang dibangun partai politik secara kelembagaan tidak tertata dengan untuk membangun sistem demokrasi.

“Demokrasi kita belum mapan. Padahal, partai politik sebagai salah
satu pilar penting dalam sistem demokrasi. Penataan kelembagaan partai
politik kita sejak berdiri belum mengadopsi nilai-nilai modern yang
rasional dalam memecahkan persoalan bangsa kita,” ujarnya dalam diskusi
interaktif bertajuk “Merangkai Kebersamaan Demi Terjaganya Keutuhan
NKRI” di Jakarta, Sabtu (2/3/2019).

Bursah menambahkan, komunikasi politik buruk, partai politik tidak
mengakar, dan rekrutmen partai politik asal-asalan, itulah buntut dari
terbelahnya bangsa. Kemudian, sistem pemilu yang menerapkan ambang batas
pun ikut ambil bagian, sehingga hanya dua pasangan capres-cawapres.

“Kalau ada tiga pasang (capres-cawapres) ada alternatif, situasi
nasional kita tidak seperti sekarang ini. Sangat panas dan menenggangkan
dinamikanya juga dipastikan akan berbeda,” tuturnya.

Bursa
menilai, seharusnya presidential threshold cukup 10 persen atau baiknya
nol persen, sehingga dinamika politik bisa berjalan baik.

Diskusi

Mengenai hoaks, sambungnya, ia meyakini ada aktor cerdas di
belakangnya yang memainkan berita bohong tersebut dengan tujuan
tertentu. Namun, mereka yang terkena hoaks adalah masyarakat yang kurang
literasi.

Tingkat peradaban literasi Indonesia, kata Bursah, bahkan
menempati ranking 60. Bila menilik UNESCO, dari 1.000 orang, hanya 1
orang yang membaca buku. Dari 1 orang itu durasi membacanya hanya 35
sampai 59 menit.

“Itu rendah sekali. Padahal, menurut UNESSCO suatu peradaban bisa maju berkembang kalau penduduknya membaca buku 4 sampai 5 jam dalam sehari. Dan setiap orang memiliki 3 buku yang dibaca,” ujarnya. (INT)

Leave a Reply