Ekonom: Daya Beli Masyarakat Belum Pulih Akibat Pandemi Covid-19

0
1
Akibat pandemi Covid 19, masyarakat masih menahan belanja.

Daya beli masyarakat belum pulih akibat pandemi Covid-19. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Indonesia bisa kembali mengalami deflasi. Inflasi pada bulan lalu masih 0,11%.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, dalam kondisi pandemi seperti ini, yang paling menakutkan adalah deflasi dibandingkan dengan inflasi.

Deflasi dapat menjadi gambaran masyarakat menahan belanja atau bahkan memang pendapatannya turun drastis. Dengan kondisi ini, maka konsumsi juga tidak terjadi. Padahal konsumsi adalah motor penggerak utama perekonomian Indonesia.

“Deflasi saat seperti ini apalagi nanti kembali beruntun maka artinya kita tidak saja menghadapi resesi tapi lebih ke arah depresi,” ujar Bhima.

Ia menilai, kondisi saat ini memang sangat berbeda dengan krisis yang pernah dialami Indonesia sebelum nya, sehingga pemerintah harus ekstra dalam menanganinya.

“Resesi global tahun 2008 saja, Indonesia masih inflasi 11%. Sekarang indikatornya mirip depresi besar tahun 1929-1933.” kata dia.

Lanjutnya, saat ini sektor masyarakat kelas menengah ke bawah ikut tertekan dalam. Padahal dalam krisis sebelumnya, sektor ini terutama UMKM justru tumbuh pesat.

“This time is different. Supply shock-nya sampai kena ke UMKM yang jadi benteng pertahanan terakhir ekonomi,” tegasnya.

Sementara itu, Ekonom CORE Piter Abdullah juga menilai bahwa jika terjadi lagi deflasi maka permintaan kembali jauh di bawah normal.

Jika terjadi deflasi maka ini akan menekan dunia usaha untuk bisa berproduksi. Sehingga proses pemulihan ekonomi akan kembali terhambat.

Oleh karenanya, ia menilai Pemerintah perlu melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan konsumsi seperti memperluas bantuan terutama kepada masyarakat ke bawah. Dengan adanya peningkatan konsumsi maka deflasi bisa dihindari.

(IN)

Leave a Reply