Peran Besar Sastrawan dan Musisi Kreatif di Masa Silam

0
380
WR Supratman

Sumpah pemuda adalah momentum penting bagi kedaulatan negara dan bangsa Indonesia. Tahun momen Sumpah Pemuda sudah menapaki usia 90 tahun sejak diikrarkan pada 1928 silam. Sebuah bilangan yang cukup banyak dalam menapaki sejarah, yang semakin lama justru semakin dirasakan pentingnya bagi keutuhan negara Republik Indonesia.

Rasanya sudah saatnya merefleksi kembali peristiwa itu sebagai landasan bersikap bagi setiap warga negara.

Dalam bidang seni, momentum Sumpah Pemuda ini menjadi sangat aktual mengingat saat ini keberadaan seni tradisi tengah menjadi isu yang menghangat di tengah suhu politik menjelang Pemilu 2019.

Mungkin tidak semua dari kita menyadari bahwa kesuksesan kongres pemuda yang akhirnya merumuskan ikrar Sumpah Pemuda itu melibatkan campur tangan seniman, yaitu sastrawan dan musisi. Sebut saja tokoh itu Mohammad Yamin dan WR Supratman, para seniman kreatif yang pada zamannya berperan besar dalam Kongres Pemuda II.

Mohammad Yamin adalah sastrawan dan budayawan pencetus resolusi Sumpah Pemuda. Ketokohannya di bidang sastra tak diragukan lagi dan dia dianggap sebagai tokoh perintis puisi modern Indonesia.

Sementara itu W.R. Supratman adalah wartawan dan musisi yang menciptakan lagu Indonesia Raya dan Ibu Kita Kartini. Saat Konggres Pemuda II, dia memperdengarkan Indonesia Raya dengan gesekan biolanya, sebuah langkah yang cerdas dalam menyiasati kehadiran polisi Hindia Belanda yang menjaga ketat berjalannya kongres.

Menilik kegigihan para pemuda pada masa itu, dapat disimpulkan bahwa saat itu Indonesia sudah memiliki sastrawan dan musisi kreatif yang berperan besar dalam berlangsungnya Kongres Pemuda II yang akhirnya menghasilkan sumpah pemuda.

Permasalahannya adalah, bagaimana para seniman di era milenial ini memaknai sumpah pemuda di tengah berbagai arus informasi yang menempatkan aktivitas seni sebagai praktek yang acapkali dianggap menyimpang oleh kelompok-kelompok tertentu?

Framing Terhadap Aktivitas Seni Tradisi

Hampir seluruh seni tradisi di Indonesia adalah perpanjangan budaya primitif yang bermula dari ritual adat dan kepercayaan. Kemunculannya merupakan penyertaan ritual sebagai media agar memperoleh keberhasilan dalam relasi antara manusia dan kehidupan supranatural yang melingkupi.

Dalam perjalanannya, seni tradisi ini digunakan untuk berbagai kepentingan baik dalam acara agama, adat, kenegaraan, bahkan secara politik.

Akhir-akhir ini banyak isu yang berkembang di masyarakat yang menempatkan aktivitas seni tradisi sebagai perilaku menyimpang dilihat dari kacamata kelompok masyarakat tertentu.

Sebut saja, sejak terjadinya bencana gempa dan tsunami di Palu, aktivitas seni tradisi lantas dikait-kaitkan sebagai penyebab terjadinya bencana tersebut.

Di berbagai daerah, misalnya saja perhelatan Gambyong massal di Surakarta, Gandrung Sewu di Banyuwangi, dan ritual Larungan Sesaji di Jawa Tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Apabila seniman dan pemerhati seni tidak segera tanggap, isu ini akan bergerak ke berbagai seni tradisi di Indonesia dan bukan tidak mungkin menjadi ancaman kedaulatan negara dan bangsa yang sudah susah payah dibangun sejak diikrarkannya trilogi Sumpah Pemuda. (INT)