Strategi Kebudayaan Bagi Seniman di Era Milenial

0
412
Tari Gambyong

Jauh-jauh hari C.A. Van Peursen melalui Strategi Kebudayaan (1985) sudah menjelaskan soal tiga tahap berpikir manusia yaitu tahap mistis, ontologis, dan fungsional.

Pada tahap mistis, manusia tak bisa dipisahkan dari alam dan lingkungannya, dan bersifat partisipatoris. Segala gejala alam dianggap sebagai kausalitas dari sikap dan perilaku sehingga harus selaras dengan alam sekitar. Pada tahap ontologis, manusia berusaha menjaga jarak dengan alam dan menjelaskan segala gejala alam melalui penjelasan ilmu pengetahuan. Pada tahap fungsional, manusia tak lagi memikirkan aspek partisipatoris ataupun penjelasan ilmu pengetahuan semata, tetapi menekankan pada aspek manfaatan dalam kehidupan secara fungsional.

Saat ini, ketika kita berada tak hanya sekedar di tahap fungsional tetapi pada revolusi industri 4.0, tentu tak bisa ditawar lagi pentingnya menerapkan strategi kebudayaan dalam berkesenian dengan melestarikan seni tradisi melalui pengembangan dan pemanfaatan sesuai dengan konteksnya.

Seni tradisi saya kira memiliki kelenturan luar biasa dalam menembus zaman. Pada era primitif, seni berfungsi utama sebagai media ritual adat dan kepercayaan masyarakat. Namun, panjangnya waktu yang dilalui hingga saat ini, seni telah bermetamorfosis menjadi media yang sangat fleksibel dalam mendampingi berbagai hajat hidup masyarakat.

Seni tradisi bisa menjadi sarana ritual, media penanaman nilai-nilai karakter, hingga pengembangan kreativitas.

Banyak sekali unsur-unsur yang bisa dipetik dari beraktivitas seni tradisi. Oleh karena itu, saatnya seniman dan penggiat seni untuk lebih bijak menyikapi berbagai isu negatif terhadap eksistensi seni tradisi.

Pada era revolusi industri 4.0 ini, ketika digitalisasi mendominasi kehidupan, generasi muda memiliki akselerasi luar biasa dalam menangkap berbagai sinyal terutama artefak kebudayaan dengan daya tariknya masing-masing. Dunia yang telah tak berbatas (borderless) ini membuat generasi muda bebas mengapresiasi berbagai unsur budaya dari berbagai belahan bumi manapun.

Diperlukan sikap cerdas para seniman agar generasi muda bisa menemukenali nilai-nilai penting dari budaya setempat. Tentu akan lebih bijak lagi apabila memanfaatkan seni tradisi sebagai pijakan dalam pengembangan kreativitas dengan mengedepankan nilai-nilai karakter positif yang terkandung dalam seni tradisi, sehingga berfungsi secara optimal dalam memenuhi hajat hidup sebanyak mungkin umat manusia. (INT)