Waspadai Penyakit Hati, Menkes Soroti Pentingnya Skrining dan Gaya Hidup Sehat

0
1

Jakarta, Integrotasonline.com – Penyakit hati masih menjadi salah satu ancaman kesehatan serius yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Padahal, secara global angka kematian akibat penyakit hati tercatat sangat tinggi, bahkan melampaui beberapa penyakit menular lainnya.

Dalam sebuah diskusi yang menghadirkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan
Ahli Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan, David Handojo Muljono di Auditorium Swabessy Kemenkes, Selasa (2/6/2026).

“Fungsi hati semuanya diukur, termasuk untuk melihat fibrosis sejak dini. Jadi kita dari Kementerian Kesehatan mau secara dini melihat kondisi penyakit hati pada masyarakat Indonesia,” ujar Menteri Budi.

Dijelaskan Menkes, penyakit hati berkembang secara bertahap, mulai dari fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada hati. Kondisi itu kemudian dapat berkembang menjadi sirosis dan pada tahap lanjut berubah menjadi kanker hati.

Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi Indonesia. Selain infeksi virus hepatitis, faktor gaya hidup seperti konsumsi gula berlebihan, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus gangguan hati.

“Penyakit hati sering kali berkembang secara diam-diam. Banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah memasuki stadium lanjut,” sambung Menkes.

Menurutnya, kerusakan hati umumnya terjadi secara bertahap. Hati yang sehat dapat mengalami perlemakan, kemudian berkembang menjadi fibrosis atau pengerasan jaringan hati. Jika tidak ditangani, kondisi itu dapat berlanjut menjadi sirosis dan akhirnya berkembang menjadi kanker hati.

Senada, David Handojo menjelaskan proses penyakit hati berlangsung perlahan dan sering tanpa gejala, skrining atau pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk menemukan kasus lebih awal.

Upaya tersebut dikenal sebagai case finding, yakni mencari individu yang memiliki faktor risiko atau telah mengidap penyakit namun belum menunjukkan gejala berat.

Melalui pemeriksaan dini, pasien dapat segera memperoleh penanganan dan masuk ke dalam sistem pelayanan kesehatan secara berjenjang sebelum penyakit berkembang lebih parah.

Selain itu ahli Hepatitis ini juga menyoroti pentingnya program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan deteksi dini berbagai penyakit kronis, termasuk gangguan hati.

Di sisi lain, tantangan penanganan penyakit hati di Indonesia masih cukup besar. Salah satunya adalah keterbatasan layanan transplantasi hati. Saat ini, fasilitas transplantasi hati di Indonesia masih terbatas dan baru tersedia di beberapa rumah sakit rujukan.

Padahal, bagi pasien dengan kerusakan hati berat, transplantasi menjadi salah satu pilihan terapi yang dapat menyelamatkan nyawa. Keterbatasan layanan tersebut menyebabkan sebagian pasien harus mencari pengobatan hingga ke luar negeri.
Selain pengobatan, para ahli menekankan bahwa langkah promotif dan preventif tetap menjadi kunci utama dalam menekan angka penyakit hati di masa depan.

Masyarakat diimbau untuk menjaga pola makan sehat, membatasi konsumsi gula berlebih, rutin berolahraga, dan menghindari obesitas. Kondisi obesitas diketahui dapat menyebabkan penumpukan lemak pada hati yang berpotensi memicu kerusakan organ tersebut.