Jakarta – Perjalanan profesional Hendrik Sinaga, S.H., M.H. merekam dinamika lintas bidang yang jarang ditemui dalam satu sosok. Ia meniti karier dari sektor perbankan, bertransformasi menjadi advokat, lalu mengukuhkan peran sebagai pimpinan media hukum, sekaligus penggerak organisasi profesi dan kepemudaan nasional.
Karier Hendrik bermula di dunia perbankan, sebuah lingkungan yang menuntut presisi, kepatuhan, dan tanggung jawab tinggi. Pengalaman tersebut membentuk kerangka berpikirnya dalam melihat sistem, tata kelola, serta pengambilan keputusan yang berbasis risiko dan kepastian hukum.
“Perbankan mengajarkan saya tentang kejujuran, disiplin dan akuntabilitas. Itu menjadi bekal penting ketika saya masuk ke dunia hukum, yang pada dasarnya juga berbicara soal kepercayaan publik,” ujar Hendrik dalam satu kesempatan.
Langkah Hendrik kemudian berlanjut ke kantor hukum Prof Jimy Budi Pendiri Peradi dan KAI yang menjadikan beliau sebagai sentral dalam perjalanan karir hukum dan bisnis khususnya perjalanan majalah Integritas.
“Menjadi advokat bukan sekadar soal menang atau kalah di pengadilan. Ada tanggung jawab moral yang harus dijaga, terutama ketika hukum bersentuhan langsung dengan hak-hak masyarakat,” katanya.
Selain aktif sebagai advokat, Hendrik memperluas pengabdian melalui dunia media. Dirinya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Integritas, posisi yang diembannya selama lebih dari 13 tahun. Dalam periode tersebut, Majalah Integritas berkembang sebagai media nasional yang konsisten mengangkat isu hukum, etika profesi, bisnis, daerah, dan juga ekonomi sosial.
Bagi Hendrik, media memiliki peran strategis dalam memperkuat kesadaran hukum publik, bisnis dan politik.
“Media adalah ruang kontrol sosial. Ketika hukum dan kekuasaan berjalan tanpa pengawasan, di situlah media harus hadir dengan keberanian dan data,” ujarnya.
Kiprahnya di ranah organisasi juga terbilang luas, sejak mahasiswa dibandung aktif digerakan GMKI, KNPI. Dan pada 2021, melalui inisiatifnya dan hubungan baiknya dengan gubernur lemhannas Letjen Purn Agus Widjojo dapat terjalin kerjasama Mou antara DPP GAMKI dan Lemhannas untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin tingkat daerah dan nasional.
Hendrik dipercaya menjabat sebagai Ketua Bidang Ketahanan, Pertahanan, dan Keamanan DPP GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia). Dalam kapasitas tersebut, ia memimpin audiensi dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, membahas kerja sama strategis terkait program Bela Negara dan Komponen Cadangan.
Menurut Hendrik, keterlibatan masyarakat sipil dan pemuda dalam isu pertahanan merupakan kebutuhan zaman.
“Ketahanan negara bukan hanya urusan militer, tetapi juga kesadaran warga negaranya. Bela negara harus dimaknai secara inklusif dan kontekstual,” tegasnya.
Saat ini, Hendrik Sinaga baru saja diamanahkan sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Komunikasi, Informasi, Media, dan Digital Himpunan Advokat Indonesia (HAPI) untuk masa bakti 2025–2030. Peran tersebut menempatkannya di garda depan penguatan komunikasi organisasi, transformasi digital, serta pengelolaan informasi di lingkungan profesi advokat.
Di luar aktivitas organisasi, Hendrik juga menjalankan praktik hukum melalui HAS Law Firm, kantor hukum miliknya yang saat ini sudah 15 Tahun. Firma ini menjadi ruang aktualisasi profesional sekaligus cerminan prinsip integritas yang selama ini ia jaga dalam perjalanan kariernya.
Meski jadwalnya padat, Hendrik tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan keluarga. Di waktu senggang, ia memilih kembali ke rumah, menemani anak dan menghabiskan waktu bersama istri.
“Pada akhirnya, karier setinggi apa pun harus berpijak pada keluarga. Dari sanalah saya belajar tentang tanggung jawab dan makna keberhasilan yang sebenarnya,” tuturnya.
Jejak Hendrik Sinaga, S.H., M.H. memperlihatkan konsistensi dalam merawat nilai integritas di berbagai medan pengabdian. Dari perbankan, ruang sidang, meja redaksi, hingga forum strategis nasional, ia terus bergerak dengan satu benang merah: menjadikan hukum, media, dan organisasi sebagai instrumen pelayanan publik yang beretika dan berkeadilan.
Baginya hukum adalah jalan pengabdian yang menuntut kesabaran dan keteladanan. Di tengah dinamika hukum nasional yang kerap bising oleh kepentingan, ia memilih bekerja merawat integritas, dan membangun kepemimpinan yang berpijak pada nilai. Dari sanalah figur hukum tidak hanya dikenal, tetapi dipercaya.








































