Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen Diluncurkan Tepat Pada Peringatan 105 Tahun Kelahirannya

0
5

Jakarta, Integritasonline.com — Buku berjudul Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen karya jurnalis senior Bambang Wiwoho resmi diluncurkan dalam sebuah forum sarasehan ketahanan nasional yang diselenggarakan di Gedung IAS TH, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI Salemba, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang kerap mengaitkan pembahasan kejawen dengan hal-hal mistis, Bambang menegaskan bahwa bukunya disusun melalui pendekatan investigatif dan berupaya menjelaskan bagaimana nilai-nilai budaya Jawa memengaruhi cara pandang hidup Presiden Kedua RI Soeharto, termasuk dalam mengambil keputusan dan memilih para pembantunya.

“Buku ini bukan membahas mistik. Ini merupakan hasil investigasi yang mencoba menjelaskan bagaimana cara berpikir Pak Harto, bagaimana beliau membaca situasi, serta bagaimana nilai-nilai budaya memengaruhi kepemimpinannya,” ujar Bambang kepada awak media di Jakarta.

Menurut Bambang, salah satu gagasan utama dalam buku tersebut adalah upaya menguraikan konsep primbon Jawa secara lebih rasional. Ia menyebut primbon tidak semata-mata dipahami sebagai alat peramalan, melainkan sebagai instrumen untuk mengenali karakter dan potensi seseorang.

Ia mengibaratkan konsep tersebut sebagai analisis SWOT dalam kehidupan manusia, yakni mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki setiap individu.

“Ini seperti buku primbon dan kami uraikan sebagai cara membaca potensi diri. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Jika kelemahan itu disadari, maka dapat diatasi dan bahkan diubah menjadi kekuatan,” katanya.

Selain membahas karakter individu, buku tersebut juga menyoroti cara membaca perubahan situasi sosial dan politik berdasarkan pendekatan budaya yang selama ini berkembang dalam masyarakat Jawa.

Peluncuran buku ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan haul ke-105 Presiden Soeharto yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga dan yayasan.

Ketua Panitia Sarasehan Prof. Arissetyanto Nugroho mengatakan sarasehan ini tersebut bertujuan menghadirkan perspektif baru mengenai nilai-nilai budaya dan spiritualitas dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, hal-hal yang selama ini dianggap bersifat abstrak atau intangible perlu diterjemahkan menjadi konsep yang lebih nyata dan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang sering dianggap mistik sebenarnya bisa dipahami sebagai sebuah sistem berpikir yang memiliki nilai praktis,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua YKCB Mayjen TNI (Purn) Lukman Boer menekankan pentingnya membedakan antara aspek mistik dan budaya dalam memahami tradisi kejawen.

“Yang terpenting adalah persoalan keyakinan. Kita harus bisa membedakan mana yang merupakan mistik dan mana yang merupakan bagian dari kultur atau budaya masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Penerbit Buku Kompas, Paulus Tri Agung Kristanto, mengungkapkan bahwa pihaknya tertarik menerbitkan buku tersebut karena menawarkan sudut pandang yang jarang dibahas secara mendalam.

Menurutnya, selama ini pembahasan mengenai laku spiritual Soeharto hanya disinggung secara terbatas, padahal terdapat aspek budaya yang memiliki pengaruh kuat dalam perjalanan kepemimpinannya.

“Pak Harto memiliki keyakinan yang berakar pada budaya lokal. Ini bukan soal menduakan Tuhan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dan dipelihara oleh banyak pemimpin Indonesia,” ujarnya.

Tri Agung menilai setiap pemimpin memiliki cara tersendiri dalam menjaga hubungan dengan akar budaya daerah asalnya. Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam berbagai tradisi lokal di Indonesia, termasuk di Jawa yang memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan identitas politik nasional pascakolonial.

Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar presiden Indonesia memiliki keterkaitan dengan budaya Jawa, baik secara genealogis maupun kultural. Menurutnya, hal tersebut bukan semata persoalan etnisitas, melainkan refleksi dari sejarah panjang pembentukan negara Indonesia modern.

“Yang menarik adalah para pemimpin Indonesia selalu berupaya mencari dan menjaga akar budayanya. Dalam konteks Indonesia pascakolonial, pengaruh budaya Jawa memang menjadi salah satu elemen yang cukup dominan dalam kehidupan politik nasional,” katanya.

Melalui buku ini, penulis Bambang Wiwoho atau biasa dipanggil Pak Wi berharap masyarakat dapat melihat kejawen dan laku spiritual bukan sebagai sesuatu yang identik dengan mistisisme, melainkan sebagai bagian dari kearifan budaya yang dapat dipahami secara rasional dan relevan dalam membaca kepemimpinan serta dinamika bangsa.

Kegiatan sarasehan ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB), Universitas Trilogi, dSekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI dan Penerbit Kompas.