Gempa besar hingga tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah ini menyisakan duka tersendiri bagi warga Indonesia.
Donggala diguncang gempa bumi berkekuatan 7,4 SR dan disusul dengan terjadinya tsunami yang menyapu Palu dan sekitarnya.
Hingga saat ini, dikabarkan lebih dari 300 korban dinyatakan meninggal dunia dalam gempa bumi dan tsunami Palu, serta 540 di antaranya mengalami luka parah.
Juga puluhan orang yang dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
Selain itu, terjadi pula berbagai momen dramatis penyelamatan korban hingga seorang yang rela berkorban nyawa demi selamatnya orang lain.
Momen dramatis pun sempat dialami oleh para kru penerbangan di Palu.
Kejadian ini dialami oleh oleh Capt. Ricosetta Mafella, pilot penerbangan Batik Air penerbangan ID6231.
Pesawat Airbus A320 yang diawakinya tinggal landas (takeoff) saat gempa bumi melanda Palu pada Jumat (28/9/2018) petang lalu, sebelum menara ATC bandara roboh.
Sang pilot baru menyadari terjadinya gempa setelah pesawat lepas landas dan menangkap radar dan info di radio.
Akhirnya, semua kru penerbangan diberi tahu kalau mereka adalah pesawat terakhir yang terbang dari Palu, persis saat gempa terjadi.
Dibalik berhasilnya penerbangan terakhir saat gempa terjadi tersebut, terdapat kisah kepahlawanan seorang petugas yang merelakan jiwanya.
Sebuah kisah kepahlawanan saat gempa mengguncang pun dialami oleh Anthonius Gunawan Agung, petugas Air Traffic Controller (ATC).
Petugas ATC ini harus mengorbankan nyawanya karena memilih tetap berada di Tower ATC Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, meski tower sudah berguncang hebat.
Anthonius diketahui ingin memastikan pesawat Batik Air yang sedang dipandunya untuk lepas landas benar-benar telah terbang dengan aman.
Melansir dari Intisari, hal ini disampaikan oleh Yohanes Sirait, Manager Humas AirNav Indonesia yang menyatakan bahwa salah satu personel layanan navigasi penerbangan cabang Palu, yaitu Anthonius Gunawan Agung, Air Traffic Controller (ATC), tewas saat terjadi gempa.
Yohanes menjelaskan, Anthonius merupakan ATC on duty pada Tower ATC Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, pada saat terjadi guncangan gempa dengan skala 7,7 SR yang berpusat di Kabupaten Donggala pada Jum’at (28/09), seperti dikutip dari Intisari.
“Saat gempa terjadi, beliau telah memberikan clearing kepada penerbangan Batik Air untuk lepas landas dan menunggu pesawat tersebut airbrone dengan selamat sebelum akhirnya meninggalkan cabin tower ATC,” ujarnya. (INT)







































