Momen Idulfitri dengan tradisi halalbihalal bisa dimanfaatkan untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan. Sehingga, rekonsiliasi di antara elite politik tidak perlu menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah mengatakan secara kultural seharusnya semua komponen bangsa memanfaatkan modal kultural dan sosial yang dimiliki bangsa Indonesia. Pasalnya, halalbihalal merupakan tradisi Idulfitri bangsa Indonesia yang tidak ada di negara lain.
“Menurut saya, pertemuan di antara tokoh-tokoh bangsa khususnya antara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Jokowi maupun Ma’ruf Amin tidak harus menunggu momentum pascaputusan MK,” tutur Ahmad Basarah dikutip dari Media Indonesia, Senin, 10 Juni 2019.
Dia mengatakan prinsip ketatanegaraan dan kemanusiaan harus dibedakan. Pihaknya menghormati prinsip-prinsip kenegaraan bahwa sengketa pemilu diputuskan melalui musyawarah hakim MK. Akan tetapi, ranah kultural dan sosial merupakan suatu hal yang berbeda dan harus dimanfaatkan momentumnya.
“Saya mendorong agar pertemuan kultural tersebut dilakukan dalam suasana halalbihalal seperti saat ini,” tutur Basarah.
Apa yang dilakukan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada saat wafatnya istri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemisahan antara urusan politik dan kemanusiaan. Perbedaan dukungan dalam pilpres tak membuat Megawati tidak memberikan simpati, empati, ataupun dukungan atas dukacita yang dialami keluarga SBY.
Hal itu disambut baik melalui kunjungan silaturahim anak dan menantu SBY ke kediaman Megawati pada hari pertama Idulfitri.
Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie mengatakan semangat bersilaturahim dan merajut kembali kerukunan penting juga dilakukan sesama elite politik. Tak terkecuali kedua pasangan capres-cawapres.
Namun, menurutnya, yang terpenting ialah rekonsiliasi di antara masyarakat khususnya kedua pendukung capres-cawapres. “Pengikut kedua capres ini kan jumlahnya besar, kubu yang kalah 68 juta, yang menang 85 juta. Itu dua-duanya banyak. Jadi harus saling menghormati, saling menghargai,” Ujanya
Kiranya para pemimpin elita dapat menjadi teladan pada masyarakat, karena masyarakat memelurkan sikap keteladanan dari pemimpinan, untuk mengurus Indonesia yang besar diperlukan peimpimpin yang berjiwa besar. (INT)








































