Sedikitnya selama tahun 2018, ada 7 keluarga yang menjadi korban pembunuhan. Sebelum di Bekasi pada Selasa, 13 November 2018 lalu, kasus pembunuhan satu keluarga sebelumnya juga terjadi di beberapa daerah seperti Palembang, Samosir, Deli Serdang, Makassar, Aceh, Tangerang. Motifnya pun beragam, dari bunuh diri, sakit hati, dendam hingga masalah rumah tangga.
Rabu, 24 Oktober 2018, Perumahan di Kebon Sirih Kota Palembang Sumatera Selatan dikejutkan dengan satu keluarga yang tewas dengan luka tembak. Sepasang suami istri dan dua orang anaknya ditemukan tewas oleh asisten rumah tangganya. Sang suami ditemukan dengan luka tembak di kepalanya. Pengusaha barang dan jasa ini diketahui melakukan bunuh diri setelah menembak istri dan kedua anaknya.
Sementara itu di hari yang sama, sepasang suami istri dan dua anak balita di Kabupaten Samosir juga ditemukan tewas. Penemuan empat jenazah itu setelah warga melihat tidak ada aktivitas keluarga itu di dalam rumah selama satu hari. Warga berinisiatif masuk ke rumah korban dan menemukan keluarga itu sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum.
Sebelumnya Oktober 2018, satu keluarga yaitu ibu dan dua anak ditemukan hilang. Tiga hari kemudian korban ditemukan di tempat terpisah. Kedua korban ditemukan di sepanjang aliran sungai Tanjung Morawa. Sedangkan satunya ditemukan di perairan Batubara. Polisi pun meringkus empat pelaku pembunuhan dengan motif dendam karena sering diolok-olok korban.
Kemudian di Bulan Agustus 2018 di Makassar, satu keluarga terdiri dari 6 anggota keluarga dibunuh oleh 5 pelaku, motif pembunuhan adalah utang piutang. Sebelumnya pada 1 Mei 2018 di Aceh, terjadi pembunuhan suami istri dan satu anak korban, motif pembunuhan adalah sakit hati dan dendam.
Kejadian mengejutkan juga terjadi pada 12 Februari 2018 di Tangerang, dimana seorang ibu dan dua anaknya dibunuh oleh ayah tirinya karena percekcokan rumah tangga.
Menurut pakar psikologi forensik, Reza Indragiri, dalam suatu pembunuhan biasanya ada dua motif yang selalu bermain yaitu motif emosional seperti melampiaskan dendam, sakit hati dan sebagainya, motif kedua adalah motif instrumental seperti untuk mendapatkan materi, popularitas dan seterusnya.
“Memang tidak mudah menyimpulkan motif apa yang dominan, karena ada satu kasus spesifik karena bunuh diri. Ada kasus karena didahului kepedulian betapa ia sangat cinta keluarganya, bahwa orang-orang yang mengakhiri hidup seperti ini tidak bisa dinilai kekerasan,” ujar Reza. (INT)







































