Papan catur politik tidak hanya soal siapa yang bermain saja tetapi adu strategi juga menjadi hal penting untuk dilakukan. Perpolitikan tanah air juga semakin berwarna dengan kehadiran istilah-istilah seperti misalnya genderuwo, sontoloyo hingga tampang boyolali.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, genderuwo dikenal sebagai mahluk halus yang dapat berubah wujud dan kerap menakut-nakuti. Terlepas mitos itu benar atau tidak, belakangan ini genderuwo yang biasanya hanya disebut dalam konteks mistis, kini disangkutpautkan dengan politik. Ini terjadi setelah Presiden Joko Widodo berpidato dalam acara sertifikat tanah masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.”Genderuwo itu identik dengan propaganda menakut-nakuti, kekhawatiran, ketidakpastian dan keragu-raguan etika masyarakat. Kita harapkan, politik kita adalah politik kegembiraan. Pesta demokrasi berarti sebuah pesta kesenangan, masyarakat dengan kematangan politik memberikan suara, memilih dengan jernih dan rasional,” ujar Jokowi ketika diwawancara ketika itu.
Popularitas genderuwo pun meroket diiringi dengan puisi yang diunggah politisi Fadli Zon. Dalam puisi yang berjudul “Ada Genderuwo di istana”, Fadli Zon menyebut genderuwo yang ada di istana memiliki brewok.
Namun berselang, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maaruf Amin, yaitu Asrul Sani membalas puisi Fadli Zon dengan judul “Ada Genderuwo di Senayan”.
Tak hanya genderuwo, istilah sontoloyo dan tampang Boyolali pun sebelumnya berkeliaran.
Kelakar, guyon atau apapun sebutannya menjadi gaya komunikasi politik akhir-akhir ini. Gaya komunikasi ini harus dicerna dengan baik. Pada akhirnya masyarakat dituntut cerdas dan bijak agar tidak terbawa wacana untuk semata keuntungan politik bagi sebagian orang. (INT)








































