Setelah sempat perkasa diantara mata uang di negara asia lainnya, hari ini rupiah kembali melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (12/11/2018), rupiah dibuka merosot 85 poin atau 0,5 persen ke posisi 14.762 per dolar AS dibandingkan penutupan pada Jumat lalu di posisi 14.677 per dolar AS.
Pada Senin siang, rupiah berada di posisi 14.745 per dolar AS. Sepanjang awal pekan ini, rupiah bergerak di kisaran 14.732-14.762 per dolar AS. Dengan begitu, rupiah sudah alami depresiasi 8,69 persen sepanjang tahun berjalan 2018.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah melemah 115 poin atau 0,78 persen ke posisi 14.747 per dolar AS dari posisi 9 November 2018 di posisi 14.632 per dolar AS.
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan pergerakan rupiah akan sulit pada awal pekan ini karena masih terkena imbas dari sentimen akhir pekan lalu. Pertama, sinyal agresif (hawkish) bank sentral AS, The Federal Reserve terhadap kenaikan tingkat bunga acuan pada Desember mendatang.
Kedua, meningkatnya defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia pada kuartal III 2018 menjadi US$8,8 miliar atau 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal sebelumnya, defisit transaksi berjalan sebesar US$8 miliar atau 3 persen dari PDB.
“Imbas hasil pertemuan The Fed terkait arah kebijakannya dibarengi dengan rilis defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat diperkirakan masih akan menahan pergerakan rupiah,” ucapnya, Senin (12/11).











































