
Empat tahun sudah pasangan Jokowi – JK menjalankan roda pemerintahan. Mereka dinilai telah berhasil membangun infrastruktur strategis, mengurangi kemiskinan, melakukan terobosan dan kemudahan berusaha serta mengendalikan laju inflasi.
Namun berbagai rintangan pun datang silih berganti membayangi perekonomian tanah air. Gejolak eksternal datang dari pulihnya ekonomi Amerika, pengetatan moneter dan terjadinya perang dagang, terdepresiasinya nilai tukar rupiah juga menjadi tantangan berat bagi rakyat Indonesia.
Sementara dari dalam negeri, lesunya daya beli ditambah kebijakan pengetatan turut menghantui laju pertumbuhan ekonomi. Sehingga pekerjaan rumah harus dilakukan untuk mencapai tujuan nawacita, membawa Indonesia ke masa-masa penuh ketidakpastian. Di sisa setahun masa pemerintahannya di periode ini, apa yang seharusnya dilakukan pemerintahan Jokowi – JK untuk memaksimalkan perekonomian bangsa?
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh dari angka 5,02% menjadi 5,17% selama empat tahun pemerintahan Jokowi – JK di semester pertama 2018. Lalu di tahun 2017, Indonesia masuk dalam negara-negara yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) 1 triliun dolar, dan Indeks Daya Saing Indonesia memang meningkat dari tahun 2017 menduduki urutan 47 dan di tahun 2018 menduduki peringkat 45 dari 140 negara.
Lalu terkait dengan tingkat kemiskinan, per Maret 2018 berada di atas 9,682 %, namun kevalidan data ini juga masih menjadi perbincangan apakah memang sudah menjadi ukuran kesejahteraan.
Namun jumlah angkatan kerja dari tahun ke tahun makin terus meningkat, yaitu menyentuh angka 126 juta. Lalu Indeks Pertumbuhan Manusia, Indonesia ada di peringkat 87. Memang lebih rendah dari Filipina, tapi masih lebih baik dibanding negara-negara seperti Kamboja, Myanmar dan India.
Lalu apa saja yang masih bisa dilakukan Jokowi dalam satu tahun yang tersisa ini?
Membangun negara itu tidak bisa sepotong-potong, ada sebuah proses yang tidak akan pernah terhenti dan tidak akan pernah tercapai. Ibarat menaiki sebuah mistar, makin lama makin naik tetapi keinginan akan meningkat akan kesejahteraan.
Ada beberapa masalah ekonomi di Indonesia yang cukup klasik yaitu keterbatasan infrastruktur dan perizinan berbelit-belit, akibatnya bila ingin membangun pertumbuhan ekonomi sehat, menjadi sulit tercapai. Di empat tahun pertama, kita sudah punya modal infrastruktur yang cukup baik, kemudian perizinan online, namun tantangan ke depan adalah bagaimana Indonesia bersikap diantara perang dagang dan tentang ketahanan nasional. Ini yang menjadi PR terbesar bagi pemerintahan Jokowi – JK di sisa satu tahun masa pemerintahannya.
Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan pencapaian ekonomi Indonesia dalam dua tahun terakhir sudah cukup baik. Antara lain inflasi cukup rendah, bisa bertahan 2 – 3 persen. Kalau inflasi bisa terjaga dengan baik dalam satu tahun ke depan, itu bisa membantu perekonomian bangsa. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen, itu sudah cukup baik dalam kondisi Indonesia seperti ini. Ia juga menilai infrastruktur kedepannya bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi indonesia. Tapi target angka 5,5 % itu masih cukup berat untuk dicapai, ditambah dengan isu-isu ekstrenal yag sulit diprediksi. (INT)










































