
Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong menilai tren bekerja dari rumah (WFH) yang kian masif menjadi salah satu penyebab kebutuhan sewa atau pembelian ruang perkantoran berkurang. Sehingga berdampak pada pasar perkantoran, dan berimbas pada pemasukan sehingga tak sedikit pemilik gedung kantor mengobral asetnya saat pandemi.
“Pengaruh (WFH) cukup besar, karena banyak company pilih WFH terutama yang padat karya dimana karyawan yang biasa harus ke kantor sekarang ngga perlu lagi, artinya ada pengurangan space ruang kantor yang cukup signifikan karena tren WFH,” kata Lukas, Senin (24/5/21).
Beberapa pekerjaan yang biasa mendominasi bekerja di perkantoran sudah mulai bergeser untuk bekerja dari rumah, misalnya back office seperti administrasi, keuangan hingga programmer. Akibat tren ini, permintaan akan gedung perkantoran juga tidak terangkat signifikan.
“Q1 Januari, Februari, Maret lebih baik dibanding Q1 tahun lalu. Masuk Q2 ternyata nggak terjadi peningkatan signifikan mungkin suasana libur lebaran, ada puasa, pengaruh juga faktor eksternal lainnya seperti varian baru Covid-19, lockdown negara-negara lain sehingga demand terutama office building agak-agak stuck,” katanya.
Sementara itu, Senior Director of Office Services Department Colliers International Bagus Adikusumo menerangkan, Tren bekerja dari rumah (WFH) selama setahun terakhir efek pandemi telah membuat banyak gedung perkantoran di DKI Jakarta sepi peminat.
Ada tren penyewa meninggalkan gedung perkantoran karena merasa tren WFH sudah cukup efektif dan sebagian mengurangi ruang sewanya. Dampaknya ada pemilik perkantoran yang mendiskon besar-besaran sewa kantor, bahkan ada yang menjual kantornya karena sudah kepepet.
“Sekitar 60%-70% yang memang memperpanjang, saat perpanjang sewa mereka melakukan pengurangan space,” kata Bagus Adikusumo, Senin (24/5/21).
Jumlah space yang dikurangi pun tidak sedikit, mencapai 40% dari total space penyewaan semula. Akibatnya kondisi market yang sudah oversupply jadi semakin oversupply. Tenant pun banyak yang meminta diskon rental untuk mengurangi biaya operasional
“Awalnya beberapa gedung nggak ngasih (diskon), sekarang sebagian besar ngasih, ada yang 10%, 30% pengurangan biaya rental tergantung besarnya. Kalau tenant besar di atas 10.000 m2 bisa dapat diskon rental 30-40%, kalau rental office kecil paling 10%-15%, tergantung tenant siapa dan berapa besar, sifatnya memang 3 bulanan,” kata Bagus.
Di tengah kondisi yang serba sulit ini, justru banyak gedung baru bermunculan di pusat kota Jakarta, utamanya area Central Business District (CBD). Beberapa gedung baru rampung dalam beberapa bulan ini, namun ada juga gedung yang tergolong baru dan diresmikan beberapa bulan terakhir.
“Supply baru masih banyak (misal) Indonesia 1, Sebelah BRI II ada GKBI, kemudian Gedung Mori Building, gede-gede semua. Ada juga belakang UOB Plaza itu Thamrin 9 gede juga, Rasuna said sebelah Westin hotel ada gedung baru juga,” kata Bagus.
(IN)










































